Monday, April 14, 2014

Mengingat Allah

2:152

Artinya : "Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (Q.S Al Baqarah : 152)



Subhanallah sekali ayat ini. Kita, selaku hamba-Nya, memang sudah seharusnya selalu mengingat Allah. Tanpa perlu diperingatkan lagi oleh-Nya. Namun Dia, meski kita sering lalai dan melupakan-Nya, selalu mengasihi dan menyayangi kita. Dia selalu mengingat kita. Itulah mengapa Dia memperingatkan kita untuk mengingat-Nya, karena kita manusia sangat mudah lupa.
Apa jadinya jika kita lalai dalam mengingat-Nya? Apakah Dia juga menjadi lupa pada kita? Tidak, Sayang. Dia tetap mengingat kita. Dengan ujian dan cobaan yang diberikan-Nya, Dia membuat kita menjadi ingat kembali pada-Nya. Kemana kita harus mengadu saat didera ujian berat kalau bukan kepada-Nya? Kemana kita harus memohon pertolongan selain kepada-Nya? Ingat-ingatlah Sayang, jika engkau sedang diberi cobaan berat apakah engkau telah melupakan-Nya? Jika tidak, alhamdulillah. Jika iya, marilah memohon ampunan-Nya. Karena berarti saat ini Dia sedang berusaha mencuri perhatianmu. Seperti sosok kekasih yang selalu memperhatikanmu meski kau sedang sibuk. Atau seperti seseorang yang ingin membuatmu jatuh cinta kepadanya.
Lagipula, tidak ada salahnya kan mengingat Dia? Tidak ada ruginya pula. Justru mengandung banyak manfaat. Salah satunya adalah hati akan menjadi tenang. Tahu lirik lagu Opick yang ini?
“hanya dengan Allah
hatimu akan menjadi tenang
dengan mengingat Allah
hilangkah semua kegelisahan”
Luar biasa ya. Maka Sayang, ingatlah Dia maka Dia akan semakin mengingatmu :)


Thursday, April 10, 2014

Selamat Pagi Dunia

awali pagimu dengan basmalah, bismillaahirahmaanirrahiim...

selamat pagi semuanyaaaa! di sela-sela persiapan untuk kuliah, saya ingin mengisi waktu dengan menulis sesuatu di blog tercintah inih. haha lebay. apaan emang yang mau saya tulis? dunno haha.

ada quote bagus dari seorang teman untuk menambah semangat kita di pagi ini:
everything will be fine in the end. if it's not fine, it's not the end
yak, semangat ya semuanya. hari ini akan menjadi hari paling indah dari yang sudah-sudah, dan esok akan menjadi lebih indah lagi. keep smile :) !

Wednesday, April 9, 2014

Menikah Itu Eksotermis atau Endotermis?



Banyak banget hal-hal yang saya dapet di tekim. Cerita, pengalaman, pengetahuan. Salah satunya adalah analisis tentang sifat reaksi dalam suatu pernikahan. Apakah eksotermis atau endotermis?
Jadi gini, waktu kuliah Neraca Massa dan Energi, Pak Makerti nanya “Menurut kalian menikah itu eksotermis atau endotermis?” Semua bingung. Ada yang bilang eksotermis, ada yang bilang endotermis. Jawabnya ngasal, nggak pake analisis. Terus Pak Makerti bilang “Coba kita analisis dulu”
Dan ini tahapan analisisnya:
Pak Makerti (PM): jatuh cinta itu reaksinya spontan atau nggak?
Mahasiswa (M)    : spontaaaan
PM         : oke, berarti ΔG-nya negatif. Terus, biasanya jatuh cinta itu di suhu berapa?
M 1        : sekitar 25°C Pak
M 2        : suhu kamar Pak
PM         : iya, pokoknya suhunya positif kan. Nah, setelah menikah hidup jadi lebih teratur atau tidak?
M            : makin berantakan Paaak
PM         : ya tidak dong. Kamu jadi lebih teratur. Harus bangun jam segini, tidak bisa sembarangan pergi sesuka kita, kalau pulang terlalu malam bisa-bisa istri cemas (wah, Pak Makerti curhat nih), dan sebagainya. Jadi, ΔS-nya positif atau negatif?
M            : negatiiiiif
PM         : coba analisis-analisis kita tadi dimasukkan ke persamaan ΔG = ΔH – T ΔS
Terus kami mikir. Kalo T positif dan ΔS negatif berarti hasil kalinya negatif. Dikali negatif lagi jadi positif. ΔG negatif. Satu-satunya hal yang mungkin adalah ΔH-nya harus negatif dan nilainya lebih besar dari hasil perkalian T dan ΔS.
PM         : jadi, menikah itu eksotermis atau endotermis?
M            : eksotermis Paaaak
Sip. Diskusi selesai. Pendapat saya, menikah memang harus eksotermis. Jadi, panas dari sistem dikeluarkan ke lingkungan supaya sistemnya (atau keluarga istilahnya) jadi lebih adem suasananya. Hahaha, udah ah ngaco ini mah. Tapi nggak papa, asalkan nggak diartikan berarti kita harus jahat-jahat ke tetangga sebagai aplikasi dari “buang panas ke lingkungan”. Keluarga ideal adalah yang adem di dalem, adem di luar :)

Sunday, April 6, 2014

Sayang



Kalian tau ‘sayang’ itu apa? Apakah tingakatannya lebih tinggi atau lebih rendah dari cinta?
Dulu ada seorang temen yang bilang ke saya, “menurutku cinta itu lebih tinggi dari sayang. Coba deh, dimanamana orang bilangnya “cinta Allah, cinta orang tua” kan? Bukan “sayang Allah, sayang orang tua””. Saya setuju sih. Tapi, entah kenapa saya ngerasanya sayang itu justru lebih tinggi dari cinta. Baru-baru ini temen saya yang lain juga bilang kalo sayang itu lebih tinggi dari cinta. Yah, whatever lah. Pendapat emang bisa beda-beda. Mungkin, karena ‘cinta’ adalah kata yang terlalu sakral buat saya jadinya saya nggak berani make kata itu sembarangan.
Sayang. Kalo kalian ngeliat seseorang lagi lemah trus kalian pingin ngelakuin apa pun untuk menguatkan dia, itu sayang atau cinta? Kalo seseorang itu terlihat wow banget trus kalian jadi semakin mengaguminya, itu sayang atau cinta? Saya nggak tau, tapi saya selalu bilangnya “aku sayang dia”.
Sebenernya, well, apa sih yang saya tulis kali ini? Lagi-lagi ini adalah ungkapan keabsurd-dan-kenggakjelas-an saya haha. Sori yak.