Banyak banget hal-hal yang saya
dapet di tekim. Cerita, pengalaman, pengetahuan. Salah satunya adalah analisis
tentang sifat reaksi dalam suatu pernikahan. Apakah eksotermis atau endotermis?
Jadi gini, waktu kuliah Neraca
Massa dan Energi, Pak Makerti nanya “Menurut kalian menikah itu eksotermis atau
endotermis?” Semua bingung. Ada yang bilang eksotermis, ada yang bilang
endotermis. Jawabnya ngasal, nggak pake analisis. Terus Pak Makerti bilang “Coba
kita analisis dulu”
Dan ini tahapan analisisnya:
Pak Makerti (PM): jatuh cinta itu reaksinya spontan atau
nggak?
Mahasiswa (M) : spontaaaan
PM : oke,
berarti ΔG-nya
negatif. Terus, biasanya jatuh cinta itu di suhu berapa?
M 1 : sekitar 25°C
Pak
M 2 : suhu kamar
Pak
PM : iya,
pokoknya suhunya positif kan. Nah, setelah menikah hidup jadi lebih teratur atau
tidak?
M : makin
berantakan Paaak
PM : ya tidak
dong. Kamu jadi lebih teratur. Harus bangun jam segini, tidak bisa sembarangan
pergi sesuka kita, kalau pulang terlalu malam bisa-bisa istri cemas (wah, Pak
Makerti curhat nih), dan sebagainya. Jadi, ΔS-nya positif atau negatif?
M :
negatiiiiif
PM : coba analisis-analisis
kita tadi dimasukkan ke persamaan ΔG = ΔH – T ΔS
Terus kami mikir. Kalo T positif
dan ΔS
negatif berarti hasil kalinya negatif. Dikali negatif lagi jadi positif. ΔG
negatif. Satu-satunya hal yang mungkin adalah ΔH-nya harus negatif dan
nilainya lebih besar dari hasil perkalian T dan ΔS.
PM : jadi,
menikah itu eksotermis atau endotermis?
M :
eksotermis Paaaak
Sip. Diskusi selesai. Pendapat saya,
menikah memang harus eksotermis. Jadi, panas dari sistem dikeluarkan ke
lingkungan supaya sistemnya (atau keluarga istilahnya) jadi lebih adem
suasananya. Hahaha, udah ah ngaco ini mah. Tapi nggak papa, asalkan nggak
diartikan berarti kita harus jahat-jahat ke tetangga sebagai aplikasi dari “buang
panas ke lingkungan”. Keluarga ideal adalah yang adem di dalem, adem di luar :)
No comments:
Post a Comment