Masa kanak-kanak memang paling
indah. Lihatlah, gadis kecil itu asyik berlari-lari, tertawa-tawa,
bercanda-canda bersama teman-temannya. Tiada masalah yang membebaninya. Ia merasa
lepas, bebas. Meski sempat tersandung tunggul kayu dan terjatuh, ia tetap
tertawa bahagia.
Mencari buah cemplukan adalah
hobinya belakangan ini. Ia bersemangat sekali mengikuti teman-teman lelakinya
berburu buah kecil seperti tomat yang rasanya manis itu. Tetapi, aduh,
tiba-tiba ia merasakan panas di kaki bagian belakang lututnya. Spontan ia
melompat dan menangis. Terlihat lepuhan kulit di bagian itu, berwarna coklat
dan berair. Teman-temannya berlarian mendekatinya, ada yang berusaha
menghiburnya, ada yang berusaha mencari daun yang dapat dijadikan obat, ada
pula yang mencari penyebab terjadinya kecelakaan itu.
Itu pipa. Ya, sebuah pipa panjang
mengular yang entah di mana pangkal dan ujungnya. Pipa itu panas. diameternya
sekitar 30 cm. Kecil dan letaknya rendah. Tetapi cukup untuk membuat kaki seorang
gadis kecil yang belum bisa melompat tinggi melepuh. Ah, kasihan gadis kecil
itu.
Sejak mengalami kecelakaan itu, si
gadis kecil yang selalu penuh dengan keingintahuannya bertanya-tanya dalam
hati. Pipa apa itu? Mengapa hampir di setiap tempat yang ia datangi ada benda
itu? Mengapa pula ada pipa yang panas sekali dan ada yang tidak? Teringat akan
pipa besar berwarna hitam di sepanjang jalan raya yang pernah ditemuinya,
pertanyaannya pun bertambah lagi.
Pertanyaan-pertanyaan itu
diajukannya kepada orang dewasa di sekitarnya. Jawaban yang ia dapat hanyalah:
itu pipa minyak, daerah asalnya memang merupakan daerah penghasil minyak. Akhirnya
ia menyimpulkan dengan pikiran lugunya bahwa di setiap daerah, terutama di
pinggir-pinggir jalan raya pasti ada pipa itu.
Ah, si gadis kecil! Ia tanpa henti terus bertanya dan mencari jawaban atas pertanyaannya. Hidup memberinya berbagai pengalaman berharga yang mungkin bagi orang lain hanyalah suatu hal biasa. Ah, si gadis kecil! Tubuh lincahnya terus bergerak menelusuri setiap detil baru yang ditemuinya. Hidup mendidiknya dengan kearifan, menjadikan ia selalu dipenuhi keingintahuan.
No comments:
Post a Comment