1 Desember 2012, Sendai, Jepang
“Give me the ball, Mal, here, here!”
Richard, temanku di kelas internasional Marine Biology, Tohoku University,
melambaikan tangan meminta operan bolaku. Aku bingung, aku sedang terjepit.
Dikelilingi dua lawan berbadan besar seperti Steven dan Daniel membuatku
kewalahan. Ya sudahlah, ku tendang saja bolanya ke sembarang arah. Ku lihat
Sang Jun langsung mengambil bola itu dan menendangnya ke gawang timku.
Priiiit!! Tepat setelah itu peluit wasit berbunyi menandakan pertandingan usai.
Skor akhir 3-2, timku kalah. Hhhh…
Aku
berjalan ke tepi lapangan. Richard mengikutiku dan duduk di sampingku.
“You looked so confuse today. What’s wrong?”
Tanyanya.
Aku
diam. Menatap langit Jepang yang mulai menurunkan saljunya. Dingin yang ku
rasakan sekarang lebih dingin dari yang seharusnya. Apa yang harus ku katakan?
Aku tak mau terlihat cengeng di depan teman-temanku. Aku adalah lelaki!
Karena
aku diam saja, Richard mengulang pertanyaannya, mengira aku tadi tidak
mendengar karena sedang kelelahan. Aku tersenyum pahit.
“Nothing, I’m just tired and sleepy because
of so many lecture tasks that should be done last night,” Aku berbohong.
Richard
mengangguk-angguk. “Oh… I suppose you
have problems.”
Ku
rasakan butiran salju mengenai rambut dan baju hangatku. Aku merasa kesepian di
keramaian ini. Semua ini berawal saat aku menyadari waktu yang terus berputar
mengembalikanku ke bulan yang memiliki kisah tragis di kehidupanku, Desember…
26 Desember 2004,
Aceh, Indonesia
Pagi
ini aku pergi ke rumah Bibi. Aku ingin bermain bersama sepupuku, Bahri, sambil
menonton kartun di TV. Harusnya sih aku ikut mengaji di surau, tetapi aku
sedang malas. Jiwa kanak-kanakku mengizinkanku untuk ini.
“Bahri,
Akmal, ada susu nih. Ayo diminum, jangan nonton kartun terus,” Panggil Bibi.
“Iya,”
Kami berdua menyahut tanpa memalingkan muka dari TV. Kartunnya sedang
seru-serunya sih…
Tiba-tiba
aku merasakan tubuhku diguncang-guncang oleh bumi. Pintu dan jendela bergoyang.
Gempa! Kami semua panik. Bibi langsung menggamit tanganku dan Bahri dan berlari
keluar rumah. Di luar, ternyata sudah banyak orang yang bertujuan sama dengan
kami, berusaha menyelamatkan diri dari kemungkinan rumah roboh karena gempa.
Namun tidak beberapa lama kemudian gempanya berhenti. Semua orang terlihat lega
dan mulai memasuki rumah masing-masing.
Ayah
menjemputku. Beliau khawatir aku ketakutan karena tidak bersama Ibu. Sampai di
rumah Ibu memelukku. Setelah yakin bahwa aku tidak apa-apa, Ibu tersenyum lalu
menyuruhku menggosok gigi. Saat aku sedang menggosok gigi, gempa kembali
mengguncang tubuh kecilku. Cepat-cepat aku berkumur-kumur menyelesaikan gosok
gigiku. Kedua orang tuaku segera mengajakku keluar tepat saat gempa kembali
berhenti.
“Ya
sudah, untuk berjaga-jaga kita keluar saja dari rumah. Mungkin akan ada gempa
susulan yang lebih kuat,” Kata Ayah.
Kami
sekeluarga pun langsung keluar. Benar kata Ayah, ternyata ada gempa lagi. Dan
kali ini, kami semua terkejut saat melihat air yang tinggi sekali ada di
belakang kami. Lari, semua orang berlari. Ayah dan Ibu yang berada di
belakangku terus berteriak menyuruhku lari sekuat tenaga. Kerusuhan yang
terjadi sangat menggambarkan kepanikan kami.
Air
raksasa itu semakin mendekat. Ketika aku tak lagi mendengar suara teriakan
kedua orang tuaku, aku menoleh ke belakang. Aku semakin panik. Mereka sudah
tidak terlihat! Lari, lari, aku terus berlari. Lari, lari, aku terus berlari
sambil dalam hatiku aku berdoa semoga kami selamat dari air raksasa itu. Aku
takut.
Ku
lihat orang-orang berlari menuju masjid kampung kami. Karena aku sudah
benar-benar tidak tahu mau apa dan harus bagaimana lagi, aku mengikuti mereka.
Sesampainya di dalam masjid, aku melihat keluar, air semakin dekat. Aku berlari
lagi keluar masjid, aku mengira mungkin aku masih bisa berlari jauh darinya.
Tetapi aku semakin ketakutan, akhirnya aku kembali lagi ke masjid. Ternyata air
sudah masuk ke masjid, aku segera naik ke atas mimbar, begitu juga orang-orang
yang ada di sana. Saat ku lihat air semakin tinggi, hampir menenggelamkan masjid,
aku terus berdoa dalam ketakutanku yang semakin menggila ini. Ya Allah, aku
memohon perlindungan-Mu! Allahu Akbar!
Untunglah, peristiwa ini tidak
berlangsung lama. Sekitar 15 menit kemudian, air mulai surut. Saat air sudah
benar-benar surut, kami semua yang selamat segera naik ke lantai dua masjid. Di
sana, aku bertemu dengan Om dan kakak sepupuku. Kami pun saling berpelukan.
Entahlah, lega dan sedih bercampur jadi satu. Apalagi setelah mendengar cerita
ibu-ibu yang menangis kehilangan anaknya. Aku? Aku! Aku kehilangan kedua orang
tuaku! Aku tidak tahu apakah mereka selamat atau tidak! Aku harus apa?!
Berharap mereka selamat, hanya itulah yang bisa aku lakukan.
Sekitar pukul 10.40 ada yang
datang ke masjid. Ternyata itu Bang Syaiful, kakak sepupuku, yang selamat
karena sedang ada acara di luar kampung. Katanya, dia melihat air raksasa itu
dari sana. Setelah air surut dia langsung ke sini, ingin memastikan bahwa kami
semua selamat.
Kami berbagi cerita hanya sebentar
saja. Bang Syaiful harus segera mengabari keluarga yang ada di Indrapuri. Aku
menebak nenek pasti terkejut mendengarnya.
Saat Maghrib datang, Bang Syaiful
datang lagi bersama keluarga yang lain. Aku langsung diantar ke Indrapuri oleh
Paman, adik ipar Ibu. Yang lain segera melakukan pencarian terhadap keluarga
kami yang hilang. Awalnya aku ingin ikut tetapi mereka tidak membolehkan. Aku
masih kecil katanya. Padahal kan aku juga ingin mencari Ayah dan Ibu…
27 Desember 2004, Indrapuri, Indonesia
Setelah aku sarapan, Bang Syaiful
dan yang lain pulang dengan muka lelah. Aku langsung menyambut mereka, berharap
kabar baik lah yang akan ku dengar.
“Gimana Bang? Ayah dan Ibu sudah
ditemukan?” Aku bertanya dengan harap-harap cemas.
Saat ku lihat Bang Syaiful
menggeleng, aku merasakan gempa dan air raksasa itu kembali datang dan
menghanyutkanku. Aku menangis. Mengingat pelukan Ibu kemarin, menyadarkanku
bahwa itulah pelukan terakhir beliau untukku. Kasih beliau di pelukan itu ku
rasakan sangat besar. Kini aku merasa sangat kehilangan.
***
Setelah peristiwa itu, aku
menjalani kehidupan normal seperti anak lainnya. Aku tidak mau terlihat
bersedih. Aku ingin bangkit dari keterpurukan pahit itu. Aku harus menunjukkan
bahwa aku sama dengan anak-anak lain yang kedua orang tuanya masih lengkap. Aku
terus berjuang semampuku. Berbagai prestasi pun mulai ku raih. Dan kini,
mungkin ini adalah salah satu langkah hebat yang diberikan-Nya, aku bisa berada
di sini, di Jepang ini, di universitas ini, bertemu dengan banyak orang dari
berbagai Negara. Atau, mungkin ini adalah salah satu hasil dari perjuangan
kerasku selama ini? Entahlah, entah ini hasil atau suatu langkah yang akan
membawaku ke langkah selanjutnya untuk berhasil, yang pasti aku tahu
perjuanganku belum selesai. Dan teman, ingatlah pesanku ini, saat engkau merasa
kehidupan telah berbuat tidak adil, percayalah Tuhan tahu yang terbaik.
(Terinspirasi dari kisah nyata seorang teman, Chairul Akmal, yang motivasinya
begitu hebat, yang ketegarannya begitu kuat)
No comments:
Post a Comment